Oleh: PIPPK Jerman Selatan
Pendahuluan
Kesucian jiwa merupakan modal utama untuk bisa menghadap Allah, yang ini merupakan satu harapan terbesar bagi setiap muslim. Dengan sebuah panggilan yang indah Allah menyeru kepada hambanya yang suci untuk dikumpulkan dalam sebuah golongan, sebagaimana di sebutkan dalam surat Al-Fajr, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang pusa lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al-Fajr, 89:27-30).
Pensucian jiwa menjadi sedemikian penting karena sifat jiwa manusia sendiri sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam Asy-Syams(9):8-10, “Fa alhamaha fujuroha wa taqwaaha ...”. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ada sebuah gumpalan daging, yang baik buruknya gumpalan daging itu mempengaruhi keseluruhan kebaikan tubuh itu itulah hati.
Untuk mempersiapkan hamba-hambaNya yang ingin meraih derjad tinggi, Allah mengutus rasul-rasulnya sebagai pembaca ayat-ayatNya, pensuci jiwa serta pengajar kitab-kitab dan hikmah.(2:151). Kesadaran inilah yang juga dirasakan oleh nabiyullah Ibrahim ketika beliau berdoa setelah selesai membangun baitullah. “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepda mereka Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (2:129).
Ada beberapa jalan untuk mensucikan jiwa, antara lain shalat, puasa, infaq, haji dzikrullah. Dalam kesemptan ini insya Allah kita akan membahas shalat sebagai salah satu sarana.
Sarana Pensucian Jiwa
Shalat merupakan salah satu induk sarana tazkiyatun nafs. Dalam shalat terkandung sujud, berdiri, duduk, rukuk yang semuanya akan memberangus kesombongan diri pada jiwa kita. Al-Ankabut 25 disebutkan bahwa Shalat mencegah dari perbuatan munkar dan keji. Tentu saja ada syaratnya agar shalat bisa berbuah seperti yang dijanjikan oleh Allah, yaitu menegakkan semua syarat dan rukun baik yang lahiriah maupun batin. Rukun yang lahir : Berwudhu, berpakaian seperti yang disyariatkan, bertakbir, ruku' sujud dll., sedang rukun yang batin adalah kekhusyu'an. Saat ini rupanya masih banyak muslim yang melakukan shalat hanya secara dhahir saja. Bagaimana dengan kekhusyu'an itu sendiri ? "Awwalu 'ilmin yurfa'u minal ardh al khusyuu'" riwayat Thabrani dengan sanad hasan, yang maksudnya “Ilmu yang pertama kali diturunkan diatas bumi adalah kekhusyu'an”. Padahal Allah mengatakan dalam Al-Mu'minuun 1-2, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya”.
Menghadirkan Hati dan Kekhusyu'an
1. Kehadiran hati, Berkonsentrasi dengan benar-benar dan tidak memikirkan yang lain kecuali shalat itu sendiri. Untuk menghadirkan hati ini jalan satu-satunya adalah dengan memperhatikan shalat secara seksama (penuh perhatian). Bandingkan ketika kita menuju tempat ujian. Apa yang kita pikirkan sepanjang hari sebelum ujian?
2. Tafahhum (Kepahaman), Kepahaman di sini tidak mesti berarti mengerti bahasa Arab 100%. Tetapi suatu pemusatan perhatian terhadap apa yang kita baca dan menolak pikiran-pikiran liar yang mengganggu. Pemahaman yang halus akan hadir ketika hati kita tentram dalam shalat (lihat poin 1)
3. Ta'dhim (Rasa hormat), Ini muncul ketika kita punya dua pengenalan yang baik. Yaitu pengenalan tentang Allah (keagungannya, kekuasaanya), dan yang kedua kenal akan kelemahan diri kita sendiri. Bayangkan bagaimana perasaan anda ketika anda menghormati seseorang.
4. Haibah (Rasa takut yang bersumber dari rasa hormat). Rasa ini hadir ketika kita mengenal Allah dengan lebih mendalam. Kita senantiasa memikirkan siksaanya, cobaannya. Coba kita tanyakan pada diri kita masing-masing, apa daya kita kalau Allah mendatangkan siksaanya kepada kita? Na'udzu billahi min dzalik.
5. Raja' (Pengharapan), Dengan ini kita mengharapkan balasan Allah atas shalat kita. Allahlah yang maha pemurah, penyayang , penghapus dosa.
6. Haya' (Rasa malu), merupakan tambahan dari semua yang di atas. Mengapa, karena kita ini hanyalah makhluk yang penuh kekurangan. Rasa malu ini tentu akan bertambah tatkala kita tahu keburukan-keburukan kita yang terpendam dan kita sadar bahwa Allah tahu akan semuanya itu.
Dalam Al-An'am 132 Allah berfirman “Setiap yang diperoleh manusia itu sesuai dengan apa yang diusahakannya”.
Terapi Kekhusyu'an
Tentu saja kekhusyu'an ini tidak hadir begitu saja tanpa usaha. Salah satunya adalah terapi ketika kita dilalaikan dari kekhusyu'an ini. Banyak sekali yang telah dicontohkan oleh Rasullah dan para shahabat sehingga mereka bisa meraih kedudukan yang demikian tinggi di sisiAllah.
1. Ketika datang pikiran-pikiran /lintasan yang memalingkan dia dari shalat maka usahakan untuk mengusirnya dan sadarlah bahwa anda sedang shalat.
2. Berusaha untuk mencari sebab-sebab luar yang bisa menyebabkan mereka lalai dalam shalat. Rasulullah bersabda kepad Utsman bin Thalhah : "Sesungguhnya aku lupa mengatakan kepadamu agar menutup panci yang ada di rumah, karena di dalam rumah tidak boleh ada sesuatu yang mengganggu shalat seseorang" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud).
3. Menggunakan hukuman bagi diri sendiri. Harus ada self discipline dalam hal Shalat. Ingat kisah Abu Thalhah dengan kebunnya yang mengganggu dia ketika shalat.
4. Selalu bermujahadah (berusaha sekuat mungkin) Banyak ulama-ulama besar yang mengaku tidak mampu untuk menghadirkan hatinya dalam dua rakaat shalat yang mereka lakukan. Bagaimana dengan kita?
Sumber: Intisari Ihya' Ulumuddin Al-Ghazali, oleh Sa'id Hawwa.
Pendahuluan
Kesucian jiwa merupakan modal utama untuk bisa menghadap Allah, yang ini merupakan satu harapan terbesar bagi setiap muslim. Dengan sebuah panggilan yang indah Allah menyeru kepada hambanya yang suci untuk dikumpulkan dalam sebuah golongan, sebagaimana di sebutkan dalam surat Al-Fajr, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang pusa lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al-Fajr, 89:27-30).
Pensucian jiwa menjadi sedemikian penting karena sifat jiwa manusia sendiri sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam Asy-Syams(9):8-10, “Fa alhamaha fujuroha wa taqwaaha ...”. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ada sebuah gumpalan daging, yang baik buruknya gumpalan daging itu mempengaruhi keseluruhan kebaikan tubuh itu itulah hati.
Untuk mempersiapkan hamba-hambaNya yang ingin meraih derjad tinggi, Allah mengutus rasul-rasulnya sebagai pembaca ayat-ayatNya, pensuci jiwa serta pengajar kitab-kitab dan hikmah.(2:151). Kesadaran inilah yang juga dirasakan oleh nabiyullah Ibrahim ketika beliau berdoa setelah selesai membangun baitullah. “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepda mereka Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (2:129).
Ada beberapa jalan untuk mensucikan jiwa, antara lain shalat, puasa, infaq, haji dzikrullah. Dalam kesemptan ini insya Allah kita akan membahas shalat sebagai salah satu sarana.
Sarana Pensucian Jiwa
Shalat merupakan salah satu induk sarana tazkiyatun nafs. Dalam shalat terkandung sujud, berdiri, duduk, rukuk yang semuanya akan memberangus kesombongan diri pada jiwa kita. Al-Ankabut 25 disebutkan bahwa Shalat mencegah dari perbuatan munkar dan keji. Tentu saja ada syaratnya agar shalat bisa berbuah seperti yang dijanjikan oleh Allah, yaitu menegakkan semua syarat dan rukun baik yang lahiriah maupun batin. Rukun yang lahir : Berwudhu, berpakaian seperti yang disyariatkan, bertakbir, ruku' sujud dll., sedang rukun yang batin adalah kekhusyu'an. Saat ini rupanya masih banyak muslim yang melakukan shalat hanya secara dhahir saja. Bagaimana dengan kekhusyu'an itu sendiri ? "Awwalu 'ilmin yurfa'u minal ardh al khusyuu'" riwayat Thabrani dengan sanad hasan, yang maksudnya “Ilmu yang pertama kali diturunkan diatas bumi adalah kekhusyu'an”. Padahal Allah mengatakan dalam Al-Mu'minuun 1-2, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya”.
Menghadirkan Hati dan Kekhusyu'an
1. Kehadiran hati, Berkonsentrasi dengan benar-benar dan tidak memikirkan yang lain kecuali shalat itu sendiri. Untuk menghadirkan hati ini jalan satu-satunya adalah dengan memperhatikan shalat secara seksama (penuh perhatian). Bandingkan ketika kita menuju tempat ujian. Apa yang kita pikirkan sepanjang hari sebelum ujian?
2. Tafahhum (Kepahaman), Kepahaman di sini tidak mesti berarti mengerti bahasa Arab 100%. Tetapi suatu pemusatan perhatian terhadap apa yang kita baca dan menolak pikiran-pikiran liar yang mengganggu. Pemahaman yang halus akan hadir ketika hati kita tentram dalam shalat (lihat poin 1)
3. Ta'dhim (Rasa hormat), Ini muncul ketika kita punya dua pengenalan yang baik. Yaitu pengenalan tentang Allah (keagungannya, kekuasaanya), dan yang kedua kenal akan kelemahan diri kita sendiri. Bayangkan bagaimana perasaan anda ketika anda menghormati seseorang.
4. Haibah (Rasa takut yang bersumber dari rasa hormat). Rasa ini hadir ketika kita mengenal Allah dengan lebih mendalam. Kita senantiasa memikirkan siksaanya, cobaannya. Coba kita tanyakan pada diri kita masing-masing, apa daya kita kalau Allah mendatangkan siksaanya kepada kita? Na'udzu billahi min dzalik.
5. Raja' (Pengharapan), Dengan ini kita mengharapkan balasan Allah atas shalat kita. Allahlah yang maha pemurah, penyayang , penghapus dosa.
6. Haya' (Rasa malu), merupakan tambahan dari semua yang di atas. Mengapa, karena kita ini hanyalah makhluk yang penuh kekurangan. Rasa malu ini tentu akan bertambah tatkala kita tahu keburukan-keburukan kita yang terpendam dan kita sadar bahwa Allah tahu akan semuanya itu.
Dalam Al-An'am 132 Allah berfirman “Setiap yang diperoleh manusia itu sesuai dengan apa yang diusahakannya”.
Terapi Kekhusyu'an
Tentu saja kekhusyu'an ini tidak hadir begitu saja tanpa usaha. Salah satunya adalah terapi ketika kita dilalaikan dari kekhusyu'an ini. Banyak sekali yang telah dicontohkan oleh Rasullah dan para shahabat sehingga mereka bisa meraih kedudukan yang demikian tinggi di sisiAllah.
1. Ketika datang pikiran-pikiran /lintasan yang memalingkan dia dari shalat maka usahakan untuk mengusirnya dan sadarlah bahwa anda sedang shalat.
2. Berusaha untuk mencari sebab-sebab luar yang bisa menyebabkan mereka lalai dalam shalat. Rasulullah bersabda kepad Utsman bin Thalhah : "Sesungguhnya aku lupa mengatakan kepadamu agar menutup panci yang ada di rumah, karena di dalam rumah tidak boleh ada sesuatu yang mengganggu shalat seseorang" (Diriwayatkan oleh Abu Dawud).
3. Menggunakan hukuman bagi diri sendiri. Harus ada self discipline dalam hal Shalat. Ingat kisah Abu Thalhah dengan kebunnya yang mengganggu dia ketika shalat.
4. Selalu bermujahadah (berusaha sekuat mungkin) Banyak ulama-ulama besar yang mengaku tidak mampu untuk menghadirkan hatinya dalam dua rakaat shalat yang mereka lakukan. Bagaimana dengan kita?
Sumber: Intisari Ihya' Ulumuddin Al-Ghazali, oleh Sa'id Hawwa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Response to "Shalat sebagai Sarana Pensucian Jiwa"
Posting Komentar